06 Jan

  • By homeschoolingpena
  • In News
  • Comments None

Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak – banyak di antara anak-anak dan remaja lebih dikendalikan oleh emosi-emosi mereka daripada pemikiran rasional dan logis. Oleh karena itu sebagai orang terdekatnya, sebaiknya kita pahami terlebih dulu emosi yang mengendalikan dan mengarahkan mereka untuk  pemikiran dan perilaku yang lebih memperdayakan untuk memotivasi meraka. Perlu kita pahami pula kebutuhan-kebutuhan emosional antara lain :

1. Butuh akan pengakuan (merasa penting), dicintai, dan diterima

Banyak orangtua yang membuat anak mereka merasa kecil dan tidak berarti dengan ancaman Lebih baik kerjakan PR-mu sekarang, itu membuat anak merasa tidak diakui dirumah dan berpikiran bahwa mereka merasa kalah dengan melakukan perintah orang tuanya tersebut. Sebaliknya, sebagai orang tua tentu kita akan justru senang jika anak melakukan hal yang kita perintahkan, padahal hal tersebut belum tentu diterima oleh anak jika dengan cara seperti itu. Sehingga banyak anak yang menunda atau tidak mengerjakan apa yang diperintahkan orangtua (bahkan dengan ancaman sekalipun) untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya akan pengakuan dari orang tuanya.

anak-anak cenderung terdorong untuk mencari disemua tempat yang salah, apabila mereka tidak merasa dicintai dan diterima oleh orangtua.

Anak-anak akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginan mereka untuk diakui dan dicintai begitu kuat.  Mereka akan menemukan dengan cara yang salah dan di tempat yang salah apabila mereka tidak mendapat pengakuan dengan cara yang benar

Beberapa dari mereka umumnya menyusahkan diri mereka sendiri, demi mendapatkan pengakuan dan diterima (mendapatkan perhatian) seperti menggunakan tato, mengganggu anak lain, bergabung dengan geng pengganggu, mengecat rambut dengan warna menyolok, bertingkah laku seperti badut dan pelawak.

2. Butuh untuk merasa bebas dan mandiri atau keinginan untuk mengontrol

Anak tidak mau didikte untuk apa yang harus dilakukan. Mereka merasa seakan diperlakukan seperti anak kecil apabila mendengarkan nasihat orangtua. Sebab itu, anak lebih mendengarkan teman mereka, atau paman dan bibi yang masih muda daripada orangtuanya sendiri.

Lalu,bagaimana caranya memberikan arahan dan agar anak mau mendengar orangtua? Gunakan komunikasi yang tidak bermaksud memaksa anak dengan nasihat kita. Buatlah seakan-akan mereka belajar dan bekerja keras untuk diri mereka sendiri bukan untuk kita. Mereka akan lebih bersemangat dan termotivasi dengan cara seperti itu.

Dan yang terpenting adalah memenuhi tangki cinta anak kita setiap hari dan memastikan selalu penuh saat bangun anak bangun tidur dan menjelang tidur. Dengan begitu anak tahu siapa yang paling mengerti dan sayang, serta kepada siapa dia akan datang pada saat membutuhkan seseorang untuk mendengar, yaitu kita orangtuanya.

Ambilah manfaat dari informasi ini, kenali kebutuhan emosi anak kita. Pekalah dimana saat anak membutuhkan penerimaan, kebutuhan untuk mengontrol sesuatu, serta butuh untuk aman. Gunakan kata-kata yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berikut tips dan cara memenuhi kebutuhan emosi dasar seorang anak:

– Kebutuhan untuk mengontrol

  • Harga diri anak akan semakin tinggi, jika kita rajin memberikan kontrol kepada anak, karena anak merasa mampu melakukan kegiatan tanpa bantuan. Tentunya kegiatan yang aman sesuai dengan kebijaksanaan orangtua
  • Luangkan waktu khusus untuk beraktivitas dan memberikan kontrol dan mengawasinya dengan kasih sayang, misal: anak umur 2-3 tahun minta makan sendiri, pergi ke sekolah sendiri, dan lain-lain
  • Jika memungkinkan, jika anda melihat anak anda perlu untuk melakukan sesuatu sendiri maka ijinkanlah
  • Sebenarnya itu adalah proses belajar untuk dirinya sendiri dan akan sangat bermanfaat dimasa dewasa

– Rasa aman

– Rasa penerimaan atau dicintai

3. Kebutuhan untuk merasa AMAN

Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan soerang anak adalah perasaan aman. Aman di dalam diri dan lingkungannya. Remaja mencari rasa aman dengan bergabung dengan sekelompok geng atau sekumpulan teman sebaya mereka, terlibat aturan sosial diantara mereka, serta meniru perilaku temannya.

Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya Lima Bahasa Cinta mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika itu adalah tangki cinta anak, maka sebaiknya orangtua yang mengisinya. Ketika tangki cinta anak penuh, maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki inner motivasi.

Perlukah kita mempelajari dan mengetahui tangki cinta? Sangat perlu, saya seringkali merekomendasi para guru dan orangtua untuk mempelajari dan menemukan bahasa cinta anak mereka, dirinya, dan pasangannya.

Contoh, terdorong oleh rasa cinta kepada anaknya seorang ibu memarahi anaknya yang sedang bermain komputer. Berhenti main komputer dan belajar sekarang lalu apa yang ada dibenak anak? Mungkin Ibu tidak sayang padaku, dan ingin mengendalikan aku serta kesenanganku Nah, anak menerimanya sebagai hal yang negatif. Komunikasi yang menghancurkan rasa cinta ini biasanya yang menjadi akar permasalahan orangtua dan anak.

Mencintai anak tidak sama dengan anak merasa dicintai

Apa yang menyebabkan kebutuhan akan rasa aman tidak terpenuhi?

Kekerasan fisik dan verbal

Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi, hal ini sudah banyak kita temui di surat kabar dan berita di televisi, dan bahaya dan akibatnya juga sering kita temui di media tersebut. Jika tidak ada rasa aman dalam rumah, maka seorang anak akan mencari perlindungan untuk memenuhi rasa aman mereka disemua tempat yang salah. Dan anak akan melakukan apa saja untuk mendapatkan rasa aman ini, mencari perhatian dengan cara yang salah.

Membandingkan anak dengan saudara atau orang lain

Ketika kita mengatakan Mengapa kamu tidak bisa menjaga kebersihan kamar seperti kakakmu? atau Kenapa kamu tidak bisa menulis serapi Rudi?Akan tumbuh perasaan ditolak, tidak diterima, mereka akan berpikir Papa / mama lebih suka dengan Hal ini menumbuhkan sikap tidak suka dengan dirinya sendiri dan ingin menjadi orang lain. Mereka merasa aman dengan menjadi orang lain, bukan merasa aman dan nyaman menjadi dirinya sendiri.

Mengkritik dan mencari kesalahan

Ketika kita mengatakan Dasar anak bodoh, apa yang salah denganmu? Kenapa kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar? Dapat dipastikan, akan menimbulkan perasaan dendam, tidak ada rasa aman dilingkungan rumah (jika hal ini sering terjadi dirumah).

Baca juga ‘Cara Mengatasi Anak Depresi’

Semoga bermanfaat…

 

Leave a Comment