24 Aug

  • By homeschoolingpena
  • In News
  • Comments None

Pembelajaraan Jarak Jauh (PJJ) yang dilaksanakan oleh masing-masing sekolah karena adanya pandemi Covid-19 dirasa kurang efektif oleh beberapa peserta didik maupun orang tua. Salah satu kendala yang dirasakan ialah kurang stabilnya sinyal maupun uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan paket data. “Kalau kita sih kendalanya pulsa ya mbak,kita juga kan kekurangan gitu sehari-hari” ucap Pia salah satu wali murid dalam video channel youtube CNN Indonesia diunggah tanggal 26 Juli 2020. Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan akan memperjuangkan kebutuhan paket data untuk peserta didik selama pelaksanaan PJJ namun, dirinya tidak bisa menjanjikan hal tersebut.

Selama pandemi covid-19 pembelajaran jarak jauh menjadi alternatif yang digunakan untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran virus covid-19. Namun,berbagai macam keluhan dikeluarkan oleh peserta didik maupun orang tua peserta didik. Beberapa dari mereka merasakan kesulitan ekonomi untuk terus membeli paket data serta kurang tersedianya waktu orang tua untuk mendampingi peserta didik belajar menjadi kendala, terlebih lagi orang tua yang memiliki anak lebih dari satu dan bekerja di sektor nonformal seperti berjualan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah berupaya untuk mengalokasikan semua anggaran untuk penanganan covid-19. Perihal efek ekonomi yang disampaikan orang tua akibat pelaksanaan PJJ, Nadiem Makarim mengatakan bahwa ungkapan yang sering didengar ialah, biaya paket data menjadi dampak yang signifikan bagi orang tua peserta didik. Maka dari itu, Nadiem Makarim akan memperjuangkan tersedianya bantuan biaya paket untuk pendidik dan peserta didik. “Itu yang terus kita perjuangkan. Kita juga sedang berdiskusi dengan operator seluler terkait penyediaan paket data tersebut”. Ucap Mas Menteri, Nadiem Makarim.

“Pembelajaran jarak jauh, bukanlah hal yang kami inginkan. Karena ada krisis kesehatan, maka PJJ dijalankan. Opsinya, ada pembelajaran meskipun tidak maksimal atau tidak ada pembelajaran sama sekali”. Ucap Nadiem Makarim dalam tayangan Mata Najwa, Rabu 5 Agustus 2020. Sementara itu beberapa sekolah yang masuk di zona kuing dan zona hijau telah melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan jumlah peserta didik terbatas, maksimal hanya 18 peserta didik per kelas, sisanya tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Nadiem Makarim dalam acara Webinar ‘Jackpost Up Close #9’: Education The Nations: 2020-2025, Rabu 12 Agustus 2020 mengatakan banyak masyarakat dan orang tua tidak mengetahui bahwa sebenarnya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) bisa digunakan untuk membayar pulsa murid-murid. Artinya, dana bos tersebut bisa digunakan untuk membeli pulsa orang tua yang digunakan murid-murid, bisa untuk membeli peralatan TIK dan juga bisa untuk membeli perlengkapan protokol kesehatan. Namun, hal itu semua perlu disosialisasikan lebih lanjut lagi agar kebijakan tersebut mampu dilaksanakan oleh masing-masing sekolah.

Leave a Comment